Kalibrasi dan Audio Mixing

View previous topic View next topic Go down

Kalibrasi dan Audio Mixing

Post  Admin on Mon Mar 15, 2010 2:29 am


Namanya saja media audio visual..tentunya ada aspek audio didalamnya. Kalau aspek audio dihilangkan, artinya kita akan kembali ke era film bisu jamannya charlie chaplin, kita bakal repot berimajinasi membayangkan apa yang dibicarakan oleh aktor di film atau setiap pemutaran film di gedung bioskop akan penuh kerepotan mengusung peralatn konser untuk mengisi suaranya.
Pentingnya media audial ini bahkan dalam beberapa kasus mengalahkan esensi dari gambar..coba saja kalau lihat acara televisi..kadang para ibu masih dengerin acara sinetron pujaannya sabil menyeterika. Tapi kalau nonton sinetron tanpa suara..apa yang mau dinikmati coba.. ?
Kepentingan kalibrasi audio dalam urusan master media audio visual memang sedikit berbeda dengan kalibrasi untuk urusan live listening di stereo set kita..misalnya. Di live listening, kita akan mengejar level frekuensi melalui equalizer untuk mencapai titik dengar terbaik untuk ukuran kuping pendengarnya, yang berarti bisa berbeda2 tergantung orangnya dan juga akustik ruangannya. Ini sebabnya selalu terdapat mixing console yang terpisah untuk keperluan live record dalam sebuah konser. Mixing console record ini dipisahkan dengan live powered out ke audience di hall karena kalibrasinya pun berbeda.
Dalam kalibrasi untuk master audio visual media, yang dikejar adalah titik flat untuk semua frekuensi yang terdengar. Flat dalam artian semua frekuensi muncul secara proporsional, nggak ada yang dipangkas abis dan nggak ada yang diboost abis. Karena ini urusan kuping dan selera, terkadang hasil mixing satu audio operator akan berbeda dengan audio operator yang lain. Untuk menjembatani “perbedaan kualitas kuping” ini..biasanya menggunakan spectrum analyzer.

Contoh kalibrasinya dalam prakteknya misalnya seperti ini:



Screenshot ini diambil dari Software Sony Soundforge 8.0 pada sebuah sample audio musik 22.050Khz. Pada grafik terlihat semua level frekuensi muncul dengan nyaris pada level yang sama. Kurang lebih semacam inilah yang disebut frekwensi “flat” itu. Meskipun pada amplifier diangkat basnya sampai berdebum2..level di grafik inilah yang harus tetap menjadi patokan ketika kalibrasi equalizernya.

Bandingkan dengan sampel yang ini



Ini sample audio yang sama tapi dengan bass dan treble yang kurang naik. Bisa dilihat dari grafiknya pada frekuensi 1-50hz yang rendah sekali dan diatas 15.000Hz yang menukik. Pada frekuensi2 tersebutlah equalizer harus di boost agar mendekati level normal

Kemudian bandingkan juga dengan yang ini



Ini mah editor audionya kelewat nafsu atau bisa juga headphonenya rusak, sehingga apa yang seharusnya sudah over nggak kedengaran dengan benar lagi. Pada spektrum audio musikal, kalo bentuk spektrumnya aja udah kaya gini..biasanya suaranya juga nggak karu2an kalo didengerin di loudspeaker..apalagi minta on air…

Memang tidak lantas patokannya berarti semua harus rata sama. Sebab karakter suara tertentu biasanya punya warna berbeda pada frekuensinya. Misalnya suara bassdrum tentu akan cendering high di bass dan low di treble..suara vokal biasanya cenderung tinggi di midrange dan mid high…suara cymbal akan tinggi di treble dst…jadi perlu kejelian tersendiri untuk mengkalibrasi audio.

Bukan hal yang segampang kedengarannya..tapi juga nggak sesusah yang dibayangin..makanya coba aja deh..!! Goodluck !!

Admin
Admin

Posts : 13
Join date : 2009-08-15
Age : 44
Location : Jakarta

View user profile http://jpmc.forumotion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum